Minggu, 04 November 2018

5 Rahasia Jualan ala Rasulullah





Gaidofoundation.org. Meskipun dahulu aktivitas berdagang sempat dipandang sebelah mata, namun kenyataannya sekarang banyak orang mulai tertarik menjadi entrepreuner dan usaha yang begitu erat dengan istilah JUALAN. Dalam Islam sendiri yang namanya berdagang atau berwirausaha dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang mulia. Bahkan mempermudah datangnya rezeki Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadist terkemuka yang berbunyi :

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”

Dan sebagaimana diterangkan dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW sendiri pun seorang pedagang/penjual  sejati. Alias kalo zaman sekarang diistilahkan dengan sebutan Master of Selling.

Disebutkan dalam sejarah bahwa beliau memulai bisinisnya sejak berusia 12 tahun. Beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah bahkan sukses.

Kesuksesan nabi Muhammad SAW dalam berwirausaha tidak hanya sekedar dalam hal materi saja. Tapi juga keberkahan rezeki yang diperoleh serta memupuk tali persaudaraan antar muslim (dalam artian memperbanyak patner kerja atau kenalan-kenalan baru).

Lalu apa yang menjadi kunci sukses Rasulullah hingga bisa jadi Master of Selling pada masanya?

Berikut ini adalah 5 Rahasia Dahsyat Berjualan ala Rasulullah. Yuk, kita simak baik baik :

1. Meniatkan Segala Aktivitas Kebaikan Demi Ridha Allah SWT (Lillahi Ta’ala)

"Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Awal Beliau memulai berdagang, saat itu usianya masih 12 tahun. Rasul berdagang dengan mengikuti pamannya, Abu Thalib hingga ke negeri Syam (Suriah). Ketika usianya menginjak 15-17 tahun, Rasul telah berdagang secara mandiri.

Beliau berhasil memperluas bisnisnya hingga ke 17 negara. "Sampai-sampai Beliau disebut sebagai khalifah (pemimpin) perdagangan di masa muda beliau." 
Kalo di zaman sekarang mungkin bisa dikatakan karena Rasulullah itu benar benar menjadi acuan para pedagang Islam sepanjang Zaman.

Beliau rasanya sangat pantas untuk di gelari Grand Master of Islamic Selling. Alias Maha Guru Jualan ala Islam. 
Nah, karena reputasi luarbiasa dan karena kecakapan Rasulullah dalam menggabungkan antara berdagang, berkomunikasi, berkesadaran dan juga ber-ISLAM? Hal inilah yang kemudian menarik perhatian seorang saudagar perempuan  kaya raya bernama Siti Khadijah. Jadi, singkat ceritanya, karena ketakjuban Khadijah pada cara dan akhlak Rasulullah. Siti Khadijah pun terluluhkan hatinya dan kemudian memperkenankan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah.  

Segala jenis usaha dan aktivitas Rasulullah pun menjadi semakin sukses. Dan semua itu tak lain adalah buah dari sebuah ketulusan niat Rasulullah yang hanya mengharapkan ridho Allah saja. Sehingga ketika Allah kemudian Ridho, Maka dengan pasti, usaha dagang/jualannya Rasulullah pun semakin dimudahkan.

Maka itu, jika usaha jualan kita ingin dimudahkan..dilariskan..dihebatkan.. dan di-luarbiasa-kan oleh Allah, maka Kunci pertamanya adalah ; awalilah usaha jualan kita dengan niat semata adalah untuk mencari ridha-Nya Allah Subhanahu Wata'ala. Niat ikhlas. Lillahi Ta’ala.

2. Mengutamakan Integritas dan Kejujuran Level Tertinggi
Yang namanya Integritas sesungguhnya adalah pola sikap yang menunjukkan tingginya kualitas adab, akhlak, cara ​​dan juga prinsip yang dipertunjukkan oleh seseorang ketika menjalani profesinya.

Kesanggupan untuk menjaga integritas dan kejujuran level tertinggi ini sejatinya adalah pilihan bagi setiap pribadi untuk mempertahankan kualitas dirinya sendiri agar terus dan tetap memiliki standar terbaik yang mampu dijaganya secara konsisten.
Yang namanya integritas ini sendiri merupakan sesuatu yang menjadi semacam kredit POIN SUPER PLUS yang  menjadikan seorang penjual itu layak dan sangat patut untuk direkomendasikan produk dan kualitas dagangannya.
Pentingnya menanamkan nilai-nilai integritas ini pun sangat ditekankan dan ditegaskan dalam agama Islam. Dan berkali-kali pula Allah menegaskan dalam firman-Nya, yang diantaranya adalah :

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (QS. AsySyu’araa: 181-183)

Atau dalam ayat-Nya yang lain disebutkan :

“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahmaan:9).

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. ItuIah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al lsraa: 35).

Hal ini jelas sangat menggambarkan betapa yang namanya Integritas dan Kejujuran dalam aktivitas jualan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam kaidah seni berjualan ala Rasulullah SAW.

Terkait soal KEJUJURAN dan INTEGRITAS ini kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda:

Sesungguhnya para penjual/pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi).

3. Hanya Menjual Sesuatu Yang Kualitasnya Bagus Saja

Bahwa akan selalu ada nilai terbaik (atau minimal ada nilai lebih) yang kemudian disodorkan sebagai sesuatu yang kelak akan menjadi pembeda luarbiasa antara produk jualan milik kita dengan produk jualan milik orang lain. Konsumen pun terpuaskan lantaran kita benar-benar menjaga kualitas barang jualan kita. Bahkan memberikan nilai lebih yang benar benar menjadi pembeda antara kita dan penjual lainnya.

Maksudnya bahwa dalam melakukan aktivitas jualan, Rasulullah  selalu mengutamakan pelayanan terbaik dan keterjaminan mutu produk seluruh barang/jasa yang jadi sarana jualan Rasulullah.

Beliau pun tidak pernah yang namya menjual barang-barang cacat. 
Sebab, yang demikian itu tiada lain adalah sesuatu yang kelak akan merugikan pembeli dan bisa menjadi semacam boomerang berujung dosa bagi si penjual.

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan." (HR. Ibn Majah).


4. Selalu Memberikan Servis Terbaik (Service Excellent) Kepada Konsumen
Bersikap ramah, santun dan selalu tersenyum kepada pembeli juga merupakan cara berdagang Rasulullah SAW.

Ditambah lagi dengan kesungguhan Rasulullah untuk selalu memberikan pelayanan terbaik (Service Excellent). 
Tentu saja menjadikan cara berjualan ala Rasulullah merupakan sebuah keteladanan sempurna bagi kita para penjual milenial yang hidup di era kekinian yang dalam segala aspeknya menuntut adanya kesempurnaan dalam pelayanan dan keterbukaan dalam seluruh aktivitas yang bernuansa deal-deal an (negosiasi, perundingan, tawar menawar hingga mencari pemecahan masalah yang terkait dengan aktivitas jualan) yang ujung-ujungnya adalah bisa saling memberi keuntungan.

5. Memiliki Niat dan Tindakan Yang Bisa Sama Sama Saling Menguntungkan

Rahasia Jualan ala Rasulullah terakhir adalah selalu mengutamakan prinsip saling menguntungkan serta suka sama suka antar pembeli dan penjual. 

Oleh karenanya ketika menjual produk Rasulullah senantiasa mengutamakan kejujuran, keterbukaan dan semangat saling memberi solusi permasalahan  yang saling menghadirkan keuntungan. Alias Win Win Solution.  Dalam seni Jualan ala Rasulullah kesemuanya tidak ada yang ditutupi-tutupi. Jujur. Terbuka. Apa adanya.

Dan hal itu Rasulullah sangat jaga betul-betul sehingga kesempurnaan kualitas dari barang dagangannya.. cara jualannya.. cara negosiasi (tawar menawar) untuk mencapai kesepakatannya (baik dalam harga, jenis barang, dan cara memberikan barang tersebut) sangatlah terjaga betul.
Hal ini setidaknya begitu jelas tergambar dalam dua sabda (Nabi Muhammad SAW) dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

Janganlah dua orang yang berjual-beli berpisah ketika mengadakan perniagaan kecuali atas dasar suka-sama suka." (HR. Ahmad).

Atau dalam riwayat lain disebutkan :
"Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka." (HR. Ibnu Majah)

Akhirnya bisa kita simpulkan bahwa :

Kelima rahasia Jualan ala Rasulullah ini tiada lain merupakan sesuatu yang mencerminkan cara jualan yang betul-betul menyentuh sisi emosional para konsumen dan bahkan para kompetitor jualan ala Rasulullah. Dan hal ini cara jualan yang demikian (jualan ala Rasulullah) itu tentu saja sangat mencerminkan kesempurnaan hasil praktek Emotional Selling ala Rasulullah SAW.
Kini kelima rahasia Jualan ala Rasulullah itu pun menjadi sebentuk tata aturan dan sekaligus dasar sikap semua penjual Islam, utamanya ketika mereka (juga kita) bicara tentang strategi jualan, pembawaan dan sikap saat jualan, hingga ragam reaksi kita (dalam menghadapi konsumen) saat berjualan.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Profil

Profil
M. Hasan Gaido, Ceo Gaido Group

Trending Topic

Translate