Selasa, 15 Mei 2018

Pendidikan Instrumen Tepat Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Juri Ardiantoro


Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) Juri Ardiantoro mengungkapkan keprihatinannya atas rentetan aksi terorisme di sejumlah tempat. Sebagai lembaga yang banyak menaungi alumni di bidang pendidikan, pihaknya menegaskan bahwa pendidikan instrumen penting untuk menangkal radikalisme dan terorisme.

Yang menjadi perhatian IKA UNJ, lanjut Juri, ialah usia sebagai para pelaku yang masih belia. Usia di mana mereka semestinya sedang belajar, baik di sekolah, pesantren maupun di kampus-kampus.

“Pada konteks inilah, instrumen pendidikan menjadi sangat relevan untuk menangkal potensi tindakan radikal dan teror, sekaligus tantangan dunia pendidikan untuk mengembalikan institusi pendidikan dalam menyemaikan nilai-nilai humanisme, nilai-nilai kemanusiaan sebagai modal untuk membangun harmoni sosial dan kebangsaan yang beragam,” ujar Juri di Jakarta, Senin (14/5).

IKA UNJ mendesak kepada pemerintah, di samping memperkuat instrumen intelijen untuk mendeteksi segala indikasi tindakan kekerasan dan teror, memperkuat dan meningkatkan keterampilan aparat keamanan untuk mengatasi aksi-aksi kekerasan dan teror.

“Serta melakukan penegakan hukum yang tegas atas pelaku yang telah terbukti melakukan tindakan kekerasan dan teror,” tegas Juri.

IKA UNJ juga mendesak seluruh institusi pendidikan, baik sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, lembaga-lembaga pendidikan agama lain, dan kampus-kampus untuk mengevaluasi sistem dan materi pendidikan.

Di samping memupuk keterampilan dan kemampuan peserta didik menghadapi berbagai tantangan perubahan jaman yang sangat cepat, juga saat yang sama untuk kembali memperkuat pendidikan karakter yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kemanusiaan pada masyarakat yang plural.

“Pendidikan harus dapat menangkal dan menolak tindakan biadab yang mengorbankan manusia untuk kepentingan, ambisi, dan latar belakang apapun yang akan merobek-robek harmoni kehidupan antar-umat manusia di manapun,” tandas Juri.

Aksi terorisme berulang, 14 Mei 2018 Pukul 08.50 WIB telah terjadi ledakan bom di Markas Poltabes Surabaya yang memakan korban dan tidak menutup kemungkinan peristiwa seperti ini akan berulang.

Sebelumnya telah terjadi berbagai rentetan aksi terror dan penangkapan terduga pelaku terror telah berlangsung dalam waktu singkat pada minggu ini, yakni penyanderaan dan teror yang menewaskan 5 anggota polisi sepanjang 8-10 Mei 2018.

Sehari setelahnya, di Mako Brimob terjadi penusukan kepada anggota Brimob Briptu Bripka Marhum Frenje 11 Mei 2018 dini hari. Selanjutnya penangkapan empat terduga teroris di Tambun Bekasi pada 10 mei 2018 dan disusul penangkapan 2 perempuan muda yang diduga akan melakukan penusukan di Mako Brimob pada 12 Mei 2018.

Teror selanjutnya yang mampu menyedot perhatian dunia internasional, yakni pengeboman di beberapa gereja di Surabaya yang memakan korban nyawa dan luka-luka pada 13 Mei 2018, kemudian diikuti peledakan bom di sebuah Rusunawa di Sidoarjo yang memakan korban pelaku dan keluarganya pada hari yang sama yang menyebabkan 17 orang meninggal dunia.

Terhadap berbagai peristiwa dan aksis teror ini, IKA UNJ mengutuk keras tindakan biadab dan antikemanusiaan ini dengan alasan apapun. IKA UNJ juga menyampaikan duka belasungkawa mendalam kepada para korban seraya mendoakan semoga keluarganya diberi kesabaran.

IKA UNJ mengajak masyarakat untuk tetap tenang, tidak mengambil tindakan main hakim sendiri dengan tetap wasapada pada setiap tindakan yang berpotensi teror.


Tidak ada komentar:
Write komentar

Profil

Profil
M. Hasan Gaido, Ceo Gaido Group

Trending Topic

Translate