Kamis, 24 Mei 2018

Di Mata Menteri Denmark Ini, Puasa Ramadan Dapat Mengganggu Pekerjaan

Inger Stojberg, Menteri Imigrasi Denmark

Denmark - Kontroversi kembali dibuat oleh para politisi Denmark. Kali ini datang dari Menteri Imigrasi bernama Inger Stojberg. Menurutnya, puasa yang dikerjakan umat Islam selama bulan suci Ramadan dapat mengganggu pekerjaan.

"Saya ingin menyerukan kepada para Muslim untuk mengambil cuti dari pekerjaan selama bulan Ramadan untuk menghindari konsekuensi negatif bagi masyarakat Denmark lainnya," katanya.

Stojberg menuliskan pendapatnya ini dalam sebuah rubrik opini di surat kabar Berlingske Tidende (BT) dalam bahasa Jerman (tentunya). Dalam opininya itu ia juga mengatakan bahwa Denmark memiliki kebebasan beragama dan agama adalah masalah pribadi.

Namun, ia menyebutkan bahwa Muslim yang berpuasa Ramadan di Denmark tidak dapat makan atau minum selama lebih dari 18 jam mengingat matahari terbenam pukul 21.29 di negara itu pada bulan Juni.

Stojberg mengatakan, tuntutan kehidupan modern di Denmark membutuhkan waktu kerja yang panjang, kadang-kadang melibatkan pengoperasian mesin yang berbahaya.

Ia memberi contoh pengemudi bus yang tidak minum atau makan selama lebih dari 10 jam dan menyebut bahwa puasa dapat mempengaruhi "keselamatan dan produktivitas".

Karena itu, ia menyarankan umat Muslim harus mengambil cuti kerja selama bulan Ramadan. Sebab, menurutnya, berpuasa berpotensi menimbulkan risiko keselamatan bagi masyarakat.

Namun, anjuran Stojberg ini ditolak banyak pihak. Beberapa perusahaan bus di Denmark yang memang punya karyawan Muslim menganggap bahwa tidak punya masalah dengan para sopir yang berpuasa Ramadan.

Perusahaan bus Arriva, misalnya, yang menjalankan sejumlah trayek bus di Denmark, mengatakan, tidak pernah ada kecelakaan yang melibatkan pengemudi yang berpuasa.

"Jadi secara de facto itu bukan masalah bagi kami," kata juru bicara Pia Hammershoy Splittorff kepada surat kabar BT.

Pesan yang sama datang dari serikat transportasi 3F Denmark. Pemimpin serikat itu, Jan Villadsen, bertanya-tanya apakah sang menteri sedang mencoba untuk menciptakan masalah yang belum ada.

Ketua Muslim Union Finlandia, Pia Jardi, juga mengecam pandangan Stojberg tersebut. Bahkan ia menilai imbauan Stoejberg merupakan ide yang aneh.

"Tak ada informasi atau statistik yang menunjukkan pengemudi buss atau pekerja Muslim lain, entah bagaimana, berperilaku membahayakan saat berpuasa," ujar Jardi.

Jardi mengatakan bahwa di sebagian besar negara Muslim, toko hingga bisnis tetap berjalan secara normal, meski puasa berlangsung. Tak ada hambatan berarti dari puasa yang menyebabkan kegiatan sehari-hari terhambat.

"Muslim yang berkomitmen untuk berpuasa juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan istirahat yang layak," katanya.

Sementara itu Uni Muslim Denmark mengunggah pesan di media sosial, berterima kasih kepada Stojberg atas perhatiannya, tetapi mereka menekankan bahwa Muslim adalah orang-orang dewasa yang sangat mampu menjaga dirinya dan masyarakat sekitar, "bahkan ketika kita berpuasa".

Rekan sesamanya di partai Stojberg, Jacob Jensen, menyarankan politisi tersebut seharusnya fokus pada penyelesaian "masalah nyata" daripada mencampuri urusan Ramadan.

Stojberg adalah politisi kanan dari partai Venstre liberal yang telah berperan dalam mengencangkan kebijakan imigrasi Denmark. Ia juga merupakan seorang mantan jurnalis.

Bulan lalu ia menulis artikel yang menyebutkan "proporsi pengungsi yang signifikan" telah menipu atau menyalahgunakan kepercayaan orang Denmark. Sejak partainya membentuk pemerintahan koalisi pada tahun 2015, Denmark telah memberlakukan serangkaian kontrol imigrasi, hal itu ia tunjukkan dengan mengunggah foto kue untuk menandai 50 amandemen tersebut.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Profil

Profil
M. Hasan Gaido, Ceo Gaido Group

Trending Topic

Translate