Advertisement

Minggu, 04 November 2018

5 Rahasia Jualan ala Rasulullah





Gaidofoundation.org. Meskipun dahulu aktivitas berdagang sempat dipandang sebelah mata, namun kenyataannya sekarang banyak orang mulai tertarik menjadi entrepreuner dan usaha yang begitu erat dengan istilah JUALAN. Dalam Islam sendiri yang namanya berdagang atau berwirausaha dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang mulia. Bahkan mempermudah datangnya rezeki Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadist terkemuka yang berbunyi :

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”

Dan sebagaimana diterangkan dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW sendiri pun seorang pedagang/penjual  sejati. Alias kalo zaman sekarang diistilahkan dengan sebutan Master of Selling.

Disebutkan dalam sejarah bahwa beliau memulai bisinisnya sejak berusia 12 tahun. Beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah bahkan sukses.

Kesuksesan nabi Muhammad SAW dalam berwirausaha tidak hanya sekedar dalam hal materi saja. Tapi juga keberkahan rezeki yang diperoleh serta memupuk tali persaudaraan antar muslim (dalam artian memperbanyak patner kerja atau kenalan-kenalan baru).

Lalu apa yang menjadi kunci sukses Rasulullah hingga bisa jadi Master of Selling pada masanya?

Berikut ini adalah 5 Rahasia Dahsyat Berjualan ala Rasulullah. Yuk, kita simak baik baik :

1. Meniatkan Segala Aktivitas Kebaikan Demi Ridha Allah SWT (Lillahi Ta’ala)

"Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Awal Beliau memulai berdagang, saat itu usianya masih 12 tahun. Rasul berdagang dengan mengikuti pamannya, Abu Thalib hingga ke negeri Syam (Suriah). Ketika usianya menginjak 15-17 tahun, Rasul telah berdagang secara mandiri.

Beliau berhasil memperluas bisnisnya hingga ke 17 negara. "Sampai-sampai Beliau disebut sebagai khalifah (pemimpin) perdagangan di masa muda beliau." 
Kalo di zaman sekarang mungkin bisa dikatakan karena Rasulullah itu benar benar menjadi acuan para pedagang Islam sepanjang Zaman.

Beliau rasanya sangat pantas untuk di gelari Grand Master of Islamic Selling. Alias Maha Guru Jualan ala Islam. 
Nah, karena reputasi luarbiasa dan karena kecakapan Rasulullah dalam menggabungkan antara berdagang, berkomunikasi, berkesadaran dan juga ber-ISLAM? Hal inilah yang kemudian menarik perhatian seorang saudagar perempuan  kaya raya bernama Siti Khadijah. Jadi, singkat ceritanya, karena ketakjuban Khadijah pada cara dan akhlak Rasulullah. Siti Khadijah pun terluluhkan hatinya dan kemudian memperkenankan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah.  

Segala jenis usaha dan aktivitas Rasulullah pun menjadi semakin sukses. Dan semua itu tak lain adalah buah dari sebuah ketulusan niat Rasulullah yang hanya mengharapkan ridho Allah saja. Sehingga ketika Allah kemudian Ridho, Maka dengan pasti, usaha dagang/jualannya Rasulullah pun semakin dimudahkan.

Maka itu, jika usaha jualan kita ingin dimudahkan..dilariskan..dihebatkan.. dan di-luarbiasa-kan oleh Allah, maka Kunci pertamanya adalah ; awalilah usaha jualan kita dengan niat semata adalah untuk mencari ridha-Nya Allah Subhanahu Wata'ala. Niat ikhlas. Lillahi Ta’ala.

2. Mengutamakan Integritas dan Kejujuran Level Tertinggi
Yang namanya Integritas sesungguhnya adalah pola sikap yang menunjukkan tingginya kualitas adab, akhlak, cara ​​dan juga prinsip yang dipertunjukkan oleh seseorang ketika menjalani profesinya.

Kesanggupan untuk menjaga integritas dan kejujuran level tertinggi ini sejatinya adalah pilihan bagi setiap pribadi untuk mempertahankan kualitas dirinya sendiri agar terus dan tetap memiliki standar terbaik yang mampu dijaganya secara konsisten.
Yang namanya integritas ini sendiri merupakan sesuatu yang menjadi semacam kredit POIN SUPER PLUS yang  menjadikan seorang penjual itu layak dan sangat patut untuk direkomendasikan produk dan kualitas dagangannya.
Pentingnya menanamkan nilai-nilai integritas ini pun sangat ditekankan dan ditegaskan dalam agama Islam. Dan berkali-kali pula Allah menegaskan dalam firman-Nya, yang diantaranya adalah :

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (QS. AsySyu’araa: 181-183)

Atau dalam ayat-Nya yang lain disebutkan :

“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahmaan:9).

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. ItuIah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al lsraa: 35).

Hal ini jelas sangat menggambarkan betapa yang namanya Integritas dan Kejujuran dalam aktivitas jualan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam kaidah seni berjualan ala Rasulullah SAW.

Terkait soal KEJUJURAN dan INTEGRITAS ini kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda:

Sesungguhnya para penjual/pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi).

3. Hanya Menjual Sesuatu Yang Kualitasnya Bagus Saja

Bahwa akan selalu ada nilai terbaik (atau minimal ada nilai lebih) yang kemudian disodorkan sebagai sesuatu yang kelak akan menjadi pembeda luarbiasa antara produk jualan milik kita dengan produk jualan milik orang lain. Konsumen pun terpuaskan lantaran kita benar-benar menjaga kualitas barang jualan kita. Bahkan memberikan nilai lebih yang benar benar menjadi pembeda antara kita dan penjual lainnya.

Maksudnya bahwa dalam melakukan aktivitas jualan, Rasulullah  selalu mengutamakan pelayanan terbaik dan keterjaminan mutu produk seluruh barang/jasa yang jadi sarana jualan Rasulullah.

Beliau pun tidak pernah yang namya menjual barang-barang cacat. 
Sebab, yang demikian itu tiada lain adalah sesuatu yang kelak akan merugikan pembeli dan bisa menjadi semacam boomerang berujung dosa bagi si penjual.

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan." (HR. Ibn Majah).


4. Selalu Memberikan Servis Terbaik (Service Excellent) Kepada Konsumen
Bersikap ramah, santun dan selalu tersenyum kepada pembeli juga merupakan cara berdagang Rasulullah SAW.

Ditambah lagi dengan kesungguhan Rasulullah untuk selalu memberikan pelayanan terbaik (Service Excellent). 
Tentu saja menjadikan cara berjualan ala Rasulullah merupakan sebuah keteladanan sempurna bagi kita para penjual milenial yang hidup di era kekinian yang dalam segala aspeknya menuntut adanya kesempurnaan dalam pelayanan dan keterbukaan dalam seluruh aktivitas yang bernuansa deal-deal an (negosiasi, perundingan, tawar menawar hingga mencari pemecahan masalah yang terkait dengan aktivitas jualan) yang ujung-ujungnya adalah bisa saling memberi keuntungan.

5. Memiliki Niat dan Tindakan Yang Bisa Sama Sama Saling Menguntungkan

Rahasia Jualan ala Rasulullah terakhir adalah selalu mengutamakan prinsip saling menguntungkan serta suka sama suka antar pembeli dan penjual. 

Oleh karenanya ketika menjual produk Rasulullah senantiasa mengutamakan kejujuran, keterbukaan dan semangat saling memberi solusi permasalahan  yang saling menghadirkan keuntungan. Alias Win Win Solution.  Dalam seni Jualan ala Rasulullah kesemuanya tidak ada yang ditutupi-tutupi. Jujur. Terbuka. Apa adanya.

Dan hal itu Rasulullah sangat jaga betul-betul sehingga kesempurnaan kualitas dari barang dagangannya.. cara jualannya.. cara negosiasi (tawar menawar) untuk mencapai kesepakatannya (baik dalam harga, jenis barang, dan cara memberikan barang tersebut) sangatlah terjaga betul.
Hal ini setidaknya begitu jelas tergambar dalam dua sabda (Nabi Muhammad SAW) dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

Janganlah dua orang yang berjual-beli berpisah ketika mengadakan perniagaan kecuali atas dasar suka-sama suka." (HR. Ahmad).

Atau dalam riwayat lain disebutkan :
"Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka." (HR. Ibnu Majah)

Akhirnya bisa kita simpulkan bahwa :

Kelima rahasia Jualan ala Rasulullah ini tiada lain merupakan sesuatu yang mencerminkan cara jualan yang betul-betul menyentuh sisi emosional para konsumen dan bahkan para kompetitor jualan ala Rasulullah. Dan hal ini cara jualan yang demikian (jualan ala Rasulullah) itu tentu saja sangat mencerminkan kesempurnaan hasil praktek Emotional Selling ala Rasulullah SAW.
Kini kelima rahasia Jualan ala Rasulullah itu pun menjadi sebentuk tata aturan dan sekaligus dasar sikap semua penjual Islam, utamanya ketika mereka (juga kita) bicara tentang strategi jualan, pembawaan dan sikap saat jualan, hingga ragam reaksi kita (dalam menghadapi konsumen) saat berjualan.

Jumat, 25 Mei 2018

Foto-foto Santunan Anak-anak Yatim Kerjasama YASI, BAF Syariah dan BAZNAS di Cianjur, 4 Mei 2018














Donasi YASI untuk Anak-Anak Yatim

Santunan Anak Yatim kerjasama YASI, BAZNAS dan BAF Syariah di Cianjur, 04 Mei 2018, dipimpin langsung oleh M. Hasan Gaido, CEO Gaido Group dan Ust. Tommy Eka Kurniawan, Direktur Harian YASI.



Kamis, 24 Mei 2018

Di Mata Menteri Denmark Ini, Puasa Ramadan Dapat Mengganggu Pekerjaan

Inger Stojberg, Menteri Imigrasi Denmark

Denmark - Kontroversi kembali dibuat oleh para politisi Denmark. Kali ini datang dari Menteri Imigrasi bernama Inger Stojberg. Menurutnya, puasa yang dikerjakan umat Islam selama bulan suci Ramadan dapat mengganggu pekerjaan.

"Saya ingin menyerukan kepada para Muslim untuk mengambil cuti dari pekerjaan selama bulan Ramadan untuk menghindari konsekuensi negatif bagi masyarakat Denmark lainnya," katanya.

Stojberg menuliskan pendapatnya ini dalam sebuah rubrik opini di surat kabar Berlingske Tidende (BT) dalam bahasa Jerman (tentunya). Dalam opininya itu ia juga mengatakan bahwa Denmark memiliki kebebasan beragama dan agama adalah masalah pribadi.

Namun, ia menyebutkan bahwa Muslim yang berpuasa Ramadan di Denmark tidak dapat makan atau minum selama lebih dari 18 jam mengingat matahari terbenam pukul 21.29 di negara itu pada bulan Juni.

Stojberg mengatakan, tuntutan kehidupan modern di Denmark membutuhkan waktu kerja yang panjang, kadang-kadang melibatkan pengoperasian mesin yang berbahaya.

Ia memberi contoh pengemudi bus yang tidak minum atau makan selama lebih dari 10 jam dan menyebut bahwa puasa dapat mempengaruhi "keselamatan dan produktivitas".

Karena itu, ia menyarankan umat Muslim harus mengambil cuti kerja selama bulan Ramadan. Sebab, menurutnya, berpuasa berpotensi menimbulkan risiko keselamatan bagi masyarakat.

Namun, anjuran Stojberg ini ditolak banyak pihak. Beberapa perusahaan bus di Denmark yang memang punya karyawan Muslim menganggap bahwa tidak punya masalah dengan para sopir yang berpuasa Ramadan.

Perusahaan bus Arriva, misalnya, yang menjalankan sejumlah trayek bus di Denmark, mengatakan, tidak pernah ada kecelakaan yang melibatkan pengemudi yang berpuasa.

"Jadi secara de facto itu bukan masalah bagi kami," kata juru bicara Pia Hammershoy Splittorff kepada surat kabar BT.

Pesan yang sama datang dari serikat transportasi 3F Denmark. Pemimpin serikat itu, Jan Villadsen, bertanya-tanya apakah sang menteri sedang mencoba untuk menciptakan masalah yang belum ada.

Ketua Muslim Union Finlandia, Pia Jardi, juga mengecam pandangan Stojberg tersebut. Bahkan ia menilai imbauan Stoejberg merupakan ide yang aneh.

"Tak ada informasi atau statistik yang menunjukkan pengemudi buss atau pekerja Muslim lain, entah bagaimana, berperilaku membahayakan saat berpuasa," ujar Jardi.

Jardi mengatakan bahwa di sebagian besar negara Muslim, toko hingga bisnis tetap berjalan secara normal, meski puasa berlangsung. Tak ada hambatan berarti dari puasa yang menyebabkan kegiatan sehari-hari terhambat.

"Muslim yang berkomitmen untuk berpuasa juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan istirahat yang layak," katanya.

Sementara itu Uni Muslim Denmark mengunggah pesan di media sosial, berterima kasih kepada Stojberg atas perhatiannya, tetapi mereka menekankan bahwa Muslim adalah orang-orang dewasa yang sangat mampu menjaga dirinya dan masyarakat sekitar, "bahkan ketika kita berpuasa".

Rekan sesamanya di partai Stojberg, Jacob Jensen, menyarankan politisi tersebut seharusnya fokus pada penyelesaian "masalah nyata" daripada mencampuri urusan Ramadan.

Stojberg adalah politisi kanan dari partai Venstre liberal yang telah berperan dalam mengencangkan kebijakan imigrasi Denmark. Ia juga merupakan seorang mantan jurnalis.

Bulan lalu ia menulis artikel yang menyebutkan "proporsi pengungsi yang signifikan" telah menipu atau menyalahgunakan kepercayaan orang Denmark. Sejak partainya membentuk pemerintahan koalisi pada tahun 2015, Denmark telah memberlakukan serangkaian kontrol imigrasi, hal itu ia tunjukkan dengan mengunggah foto kue untuk menandai 50 amandemen tersebut.

Selasa, 22 Mei 2018

Agar Tetap Bugar di Saat Ramadan, Kerjakan 7 Trik Ini



Gaidofoundation - Meski kita sedang berpuasa, seharusnya tak boleh loyo atau malas-malasan dalam bekerja. Kita harus tetap semangat. Bahkan kalau bisa, kualitasnya semakin ditingkatkan karena mumpung di bulan suci di mana pahala setiap kebaikan akan berlipat ganda sepuluh kali lipat.
Berikut 7 trik atau tips agar kita tetap energik atau semangat bekerja selama bulan suci Ramadan ini:

1. Jangan lupa sahur
Ibarat sarapan, sahur merupakan kegiatan yang amat dianjurkan (meski bukan wajib) saat bulan Ramadan. Selain tubuh butuh asupan untuk siang hingga menjelang waktu berbuka puasa, sahur juga bernilai ibadah.




2. Berbuka dengan tenang
Jangan pernah makan dengan tergesa-gesa. Meskipun seharian sudah menahan lapar dan haus, kita harus mengingat kembali makna dari berpuasa. Sebaiknya Anda juga mengonsumsi buah kurma.
Buah kurma memiliki banyak manfaat di antaranya sebagai sumber energi, mencegah insomnia, juga dapat meningkatkan daya ingat dan kerja otak. Sehingga cocok segali bagi kita yang sibuk bekerja untuk mengonsumsi buah kurma setiap harinya.

3. Banyak minum air putih
Walau tak memiliki rasa, ternyata air putih memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan dan juga membangkitkan semangat serta kepercayaan diri. Karena khasiatnya ini, kita dianjurkan untuk mengonsumsi air putih delapan gelas perhari atau setara dua liter.
Bagaimana caranya minum 8 gelas air putih dalam sehari saat bulan puasa? Kita dapat membaginya menjadi dua waktu, empat gelas saat sahur dan empat gelas lagi saat berbuka.

4. Olahraga ringan
Kalau bulan puasa, kapan waktu yang tepat untuk berolahraga? Tak usah bingung, karena kita bisa melakukannya di malam hari, tak perlu lama-lama secukupnya saja. Kita bisa memilih waktunya, 15 menit sebelum berbuka atau 15 menit setelah berbuka.




5. Konsumsi 4 sehat 5 sempurna
Untuk memenuhi asupan tubuh, kita perlu mengonsumsi karbohidrat, lemak, protein, kalsium agar tetap terlihat segar meskipun sedang berpuasa.

6. Jaga pola tidur
Saat puasa, kita mungkin merasa kurang tidur karena harus terbangun saat sahur. Karena biasanya saat puasa pola tidur dan pola makan akan ikut berubah.
Tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai alasan untuk kita tidak bersemangat menjalani hari. Pola tidur yang baik akan menunjang produktivitas dan ketahanan daya tubuh.

7. Konsumsi vitamin
Selama bulan puasa, penting untuk mengonsumsi vitamin yang bisa kita dapatkan dalam bentuk tablet di tokoh-tokoh penjual obat-obatan atau bisa bisa dari makanan yang kita asup ketika berbuka.
Dengan banyak vitamin yang kita makan, energi dalam tubuh kita pun bisa terjaga dengan baik sehingga kita pun selalu bisa menghiasi hari-hari Ramadan dengan penuh semangat.
Demikian tujuh tips agar kita tetap energik selama bukan suci Ramadan. Kita bisa mencobanya.

Kesucian Bulan Ramadan

KH. Dr Cholil Nafis

Gaidofoundation.org - Bulan Ramadhan seringkali diucapkan oleh umat muslim Indonesia sebagai bulan suci. Ya karena di bulan Ramadhan diperintah berpuasa untuk menyucikan diri dan jiwa. Selama berpuasa sebulan penuh dilatih untuk menyucikan iman dari bercampur kemusyrikan sehingga semua amal hanya dipersembahkan kepada Allah SWT. Makan, minuman dan pemenuhan syahwat kemanusiaan diubah sesuai ketentuan syariah.

Organ tubuh dilatih untuk selalu dalam keadaan suci dari perbuatan amarah dan dosa, bahkan saat dimaki pun orang yang berpuasa diimbau menahan diri karena memurnikan diri yang sedang berpuasa. Namun tingkatan suci yang paling tinggi adalah suci hati dan jiwanya dari kesibukan selain berdzikir kepada Allah SWT.

Menurut Imam Abu Hamid al-Ghzali dalam kitab Mau'izhatul Mukminin ringkasan kitab Ihya' Ulumiddin membagi tingkatan suci pada empat tingkatan. Pertama, suci secara zhahir dari najis, kotoran dan kotoran yang di tubuh.

Najis dapat diketahui terbagi tiga, yaitu najis mughallazhah (berat), najis mutawassithah (sedang) dan najis mukhaffafah (ringan). Najis mughallazhah itu najisnya anjing dan babi. Najis muatwassithah adalah kotoran manusia, kotoran hewan dan bangkai.

Sedangkan najis mukhaffah adalah najis yang diringankan dari najis mutawassithah dengan cara dihilangkan baunya, rupanya, dan rasanya. Kelebihan organ tubuh manusia berupa kuku, bulu dan kulit daging yang semuanya tidak najis tetapi kotorannya dapat dibersihkan, dengan cara dipotong atau dibuang.

Kedua, suci anggota tubuhnya dari perbuatan pidana dan dosa. Seperti, mata tak melihat yang diharamkan, telinga tak mendengarkan yang dilarang oleh syariah, mulut tidak memaki, ghibah dan mengadu domba orang lain, tangan tak mengambil dan memegang sesuatu yang bukan haknya, dan tindakan lainnya tidak merugikan orang lain.

Semua yang dilakukan oleh organ tubuh manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alllah SWT. Karenanya, semuanya harus disucikan dari tindakan yang merugikan orang lain dan dosa kepada Allah SWT.

Ketiga, suci hati dari sifat hasud (iri hati), riya' (pamer), dan sombong. Penyakit hati itulah yang sering menggerogoti dan mengotori kesucian hati dan merusak keikhlasan dalam semua amal baik yang dilakukan.

Hati adalah kunci dari semua tindakan karena semua amal tergantung pada niatnya. 

Keempat, suci jiwa dari usikan duniawi dan bisikan syaitan yang mengganggu keintiman dengan Allah SWT. Inilah tingkatan para nabi dan rasul yang jiwanya hanya terpaut kepada Allah SWT.

Semua tingkatan kesucian yang diuraikan oleh Abu Hamid Al-Ghazali dapat diuraikan dengan cara mengikuti latihan kemanusiaan selama bulan Ramadhan. Suci secara zhahir dapat dilatih dengan cara banyak i'tikaf selama bulan puasa, terlebih pada sepuluh terakahir bulan Ramadhan.

Inilah latihan suci zhahir, sebab di antara syarat sahnya i'tikaf adalah suci dari najis dan hadats. Suci anggota tubuhnya dari tindakan yang merugikan orang dan dosa dapat dilatih dengan puasa yang lebih sempurna, yaitu menahan amarah terhadap tindakan yang dilakukan oleh orang lain dan dosa yang akan diperbuat.

Sebab puasa yang dikehendaki Allah SWT bukan hanya meninggalkan konsumsi dan syahwat tetapi juga meninggalkan ucapan kotor dan perbuatan keji. Suci hati selama puasa dapat dilatih dengan cara puasa maksimal. Bahwa hati seseorang yang berpuasa secara sempurna tidak cukup hanya meninggalkan konsumsi, syahwat, dan dosa tetapi hatinya harus terpaut dan dzikir mengingat Allah SWT.

Bahkan saat berbuka kadang tak merasakan nikmat makan sepenuhnya karena hatinya merasa kurung utuh dan menyatu kepada Allah sehingga merasa sedih dan khawatir puasanya tidak diterima oleh Allah SWT.

Simbol suci dalam diri manusia yang telah dicapainya diakhir pelaksanaan ibadah berupa kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Bahwa manusia telah kembali suci dan fitri bagaikan anak yang baru dilahirkan. Ia suci dari dosa, suci hati dan jiwanya meraih predikat diri sebagai hamba Allah SWT yang bertakwa.




Senin, 21 Mei 2018

Ramadan Jadi Momentum Melestarikan Lingkungan dari Kerusakan


Aksi penolakan proyek pembangunan tol Serpong - Cinere oleh aktivis lingkungan Gugusan Alam Nalar Ekosistem Pemuda-Pemudi (GANESPA), di Setu Sasak Tinggi Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. 

Gaidofoundation.org - Sejak kapan alam, khususnya bumi yang kita diami ini mengalami kerusakan? Jawabnya tegas, sejak manusia berada di bumi, sejak manusia "dipercaya" Allah sebagai khalifah (mandataris-Nya) di muka bumi.

Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 30 disebutkan: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa manusia memang makhluk yang sering membuat kerusakan di muka bumi. Bahkan di antara mereka meski dikaruniai akal, hati, dan nafs tetap saja saling bunuh hingga detik ini.

Kisah pembunuhan sesama manusia telah ada sejak zaman putra Adam Hawa, yaitu Qabil dan Habil yang dikisahkan oleh QS: Al Maidah: 27 31. Artinya, fakta bahwa manusia memiliki potensi pembuat kerusakan di muka bumi sudah ditegaskan dalam Alquran.

Lalu apa hubungannya dengan momentum Ramadan kali ini? 

Harus diketahui, perilaku manusia yang membuat kerusakan tidak dapat dilepaskan dari desain jiwa manusia sejak awal, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al Syams: 8, yaitu: "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya".

Dengan potensi kefasikan (fujur) dan kebaikan (takwa) secara bersamaan, manusia berada pada posisi untuk melakukan dua hal, yaitu kerusakan atau kebaikan (kemakmuran).
Kebaikan (ketakwaan) didorong oleh potensi akal, hati, dan juga ruh. Sedangkan kemaksiatan (kerusakan) didorong oleh potensi nafs al (jiwa rendah) yang selalu mengarah pada kesenangan dan kegelapan.

Dalam diri manusia selalu berdinamika untuk saling berebut pengaruh antara dua kutub tersebut, sehingga kita perlu mengendalikannya agar jiwa ini tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

Selain uraian tentang watak dasar manusia yang dikisahkan dalam peristiwa Qabil dan Habil, sejarah modern manusia juga membuktikan bahwa sejak revolusi industri abad 17 hingga saat ini kerusakan alam semakin dahsyat, seperti kerusakan ozon, hutan gundul, pencemaran lautan, dan lain lain.

Betapa tidak, penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan tekonologi di Barat telah tercerabut dari nilai nilai ketuhanan, sehingga dalam pengelolaan alam ini semata mata hanya untuk kepentingan duniawi dengan eksploitasi tanpa jiwa.

Semakin meningkatnya eskalasi kerusakan alam diakibatkan dari sudut pandang manusia yang anthroposentris, memandang bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta. Sehingga alam dipandang sebagai objek yang dapat dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan manusia.

Hal ini telah disinggung oleh Allah dalam Alquran surah Ar Ruum ayat 41: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Oleh karena itu, integritas dan komitmen terhadap lingkungan harus terus dibangun agar memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dalam menjalani kehidupan bersama alam sekitarnya.

Dalam konteks inilah, bulan Ramadan sebagai bulan penggemblengan jiwa, baik melalui puasa, shalat, baca Alquran, sedekah dan lain lain dapat dijadikan momentum untuk membangun kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan.

Apalagi di puncak Ramadan diwajibkan bagi umat Islam agar mengeluarkan sebagian hartanya dalam bentuk zakat sebagai bentuk kepedulian lingkungan, khususnya kepada sesama. Wallahu a'lam. (Tribun)



Dekorasi Ramadan Keluarga Muslim di Amerika


Inas El Ayouby senang bisa menemukan berbagai dekorasi Ramadan di toko-toko sekitar lingkungannya, yang bisa menambah koleksi dekorasi buatannya sendiri.

Washington DC - Sebagian Muslim ada yang senang menghias rumah dengan dekor khas pada bulan Ramadan. Ini dianggap sebagai peluang bisnis oleh sebuah perusahaan ritel Amerika yang berspesialisasi menyediakan keperluan pesta.

Sepanjang bulan Ramadan seperti biasanya umat Islam menjalankan ibadah puasa, salat tarawih, dan membaca kitab suci Alquran. Tetapi ada hal-hal yang menyenangkan dalam menjalani ibadah bulan Ramadan. Ada saat-saat bersilaturahmi dengan keluarga dan teman- teman sewaktu mereka berbuka, yang juga dikenal sebagai acara “iftar”. Ada juga makanan khusus untuk anak-anak yang belum mencapai usia akil baligh ketika mereka wajib berpuasa. Dan banyak keluarga Muslim yang memasang dekorasi Ramadan.

Meskipun itu bukan kewajiban dalam agama, menghias rumah untuk Ramadan adalah tradisi yang menyenangkan dan harus dilakukan oleh banyak keluarga. Ini antara lain dilakukan oleh Inas El Ayouby, yang tinggal di Vienna, Virginia, Amerika, bersama keluarganya.

“Ini memberi perasaan yang hangat dan menyenangkan dan itu membuat Ramadan menjadi saat yang sangat istimewa”, katanya. “Dan sungguh menakjubkan betapa dekorasi memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana yang hangat, menyenangkan dan perasaan gembira selama bulan puasa”.

Katanya, dekorasi terutama sangat penting untuk anak-anak, karena ini mengajarkan kepada mereka tentang bulan puasa dan membuat mereka menyenangi dan menantikan bulan ini setiap tahun.

Tahun ini, ketika jaringan toko eceran Amerika, Party City, memperkenalkan koleksi dekorasi Ramadan, El Ayouby sangat gembira.

“Semua orang sangat senang. Saya bisa melihat semua teman di Facebook mengatakan, pergilah ke Party City, belilah barang Ramadan, kalian akan menemukan barang-barang indah," katanya.

Ryan Vero, direktur Ritel Party City mengatakan, perusahaan itu membuat koleksi Ramadannya berdasarkan pada permintaan para pelanggan.

“Kami selalu ingin membantu pelanggan kami dalam semua kebutuhan pesta mereka, untuk setiap jenis perayaan atau acara, “ katanya. “Kami menyimak para pelanggan kami dan melihat peluang untuk mengisi jenis barang-barang kebutuhan pesta yang tidak terlayani”.

Dan dia mengatakan, itu adalah pasar yang menguntungkan, mengingat ada sekitar lima juta Muslim tinggal di Amerika Utara, menurut studi pada 2014 oleh Konsorsium Konsumen Muslim Amerika.

Selain dekorasi Ramadan, Party City juga menawarkan barang-barang serupa untuk menyambut Idul Fitri, setelah bulan Ramadan berakhir. (Voa)

Saat Ramadan, Penjualan Kelapa Parut Naik 25 Persen


Pedagang kelapa parut di Pasar Grogol

Penjualan kelapa parut mengalami peningkatan pada awal Ramadan tahun ini. Hal itu disebabkan karena tingginya permintaan kelapa parut untuk santan. Tarjo salah seorang pedagang kelapa parut mengatakan, pada awal Ramadan penjualan meningkat sekitar 25 persen dari hari biasa.

"Biasanya jual 200 butir, sekarang puasa bisa sampai 250 butir, meningkatnya lumayan," kata Tarjo di Pasar Grogol, Jalan Muwardi Raya, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Senin (21/5/2018).

Ia mengatakan, penjualan akan terus meningkat hingga pertengahan bulan Ramadan.

"Nanti turun lagi seperti hari biasa pas tengah-tengah Ramadan, naik laginya selang berapa hari sebelum lebaran," ujar Tarjo.

Meski permintaan meningkat, harga untuk kelapa parut sendiri tidak mengalami kenaikan.

"Kalau harga masib sama Rp 8 ribu per butirnya," kata Tarjo.

Asep pedagang kelapa parut lainnya mengatakan, kelapa parut banyak dicari sebagai santan untuk keperluan memasak hidangan berbuka puasa.

"Iya naik penjualannya, soalnya banyak yang cari buat masak kolak, masak rendang kata yang belinya itu," kata Asep.



Kenapa Ramadan Disebut Bulan Alquran?



Ramadan disebut bulan Alquran karena Allah SWT menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke langit bumi, Baitul Izzah, pada malam 25 bulan Ramadan.

Sebagaimana riwayat Imam Ahmad dari Watsilah bin al Asqa', Rasulullah SAW bersabda, Alquran diturunkan pada 24 malam di bulan Ramadan. Kemudian Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur sesuai dengan beberapa kejadian dan peristiwa.

Nabi SAW memprioritaskan bulan Ramadan dengan tadarrus, yaitu membaca Alquran secara bergantian dan saling simak dengan Malikat Jibril untuk mengkhatamkan Alquran.

Bahkan di bulan Ramadan terakhir menjelang Nabi SAW wafat, mengulang tadarrus dua kali. Tradisi tadarrus dan khataman inilah yang terus dilestarikan oleh ulama salaf.

Qatadah mengkhatamkan Alquran setiap Minggu, dan ketika masuk bulan Ramadan mengkhatamkan Alquran setiap tiga hari sekali. Pada sepuluh terakhir bulan Ramadan Qatadah mengkhatamkan setiap malam.

Imam Malik, pendiri mazhab Maliki sengaja menghentikan pengajian rutinnya (tawaqqufan) selama bulan Ramadan hanya karena ingin fokus untuk membaca Alquran serta mengkaji makna dan tafsirnya.

Menurut riwayat Rabi' bin Sulaiman, bahwa Imam Syafi'i mengkhatamkan Alquran selama bulan Ramadan sebanyak enam puluh kali.

Sepantasnya bagi semua umat Muslim jangan menyia-nyiakan untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum untuk hidup bersama Alquran, selalu mengkaji dan membacanya setiap hari.

Selama Ramadan dapat berkomitmen untuk mengkhatamkan Alquran setiap Minggu, per sepuluh hari, atau minimal satu ayat setiap harinya, agar menjadi Muslim yang berpenampilan baik dan perilakunya elok.

Rasulullah SAW mengilustrasikan orang mukmin yang selalu membaca Alquran bagai buah utrujah (sejenis durian), aromanya wangi dan rasanya lezat. Orang mukmin yang tak rajin membaca Alquran bagai buah kurma yang tak ada aromanya meskipun rasanya manis.

Hadits ini menunjukkan Alquran adalah pedoman manusia yang menjadi panduan dalam menjalankan hidup yang baik di dunia dan selamat di akhirat. Alquran bagi Muslim ibarat buku panduan (manual book).

Jika diumpamakan kepada mobil atau alat elektronik, barang itu akan baik dan awet manakala penggunaannya mengikuti buku panduannya. Namun bagi Muslim tak cukup hanya hidup sesuai petunjuk Alquran tapi juga sangat dianjurkan terus membaca Kitab Suci karena membacanya selalu mengalirkan pahala dan rahmat Nya.

Perintah membaca

Oleh karena itu, perintah membaca menjadi ayat Alquran dalam ayat dan surat pertama yang turun secara berangsur kepada Rasulullah SAW di Gua Hira'. Saat itu turun perintah kepada Rasulullah untuk membaca meskipun Nabi SAW tak bisa membaca (ummi). Artinya membaca itu adalah jendela pengetahuan dan panduan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Namun membaca untuk mendapat ilmu pengetahuan saja tak cukup, karenanya harus dibarengi dengan menyebut nama Allah sebagai landasan dari ilmu pengetahuan. Membaca dan menyebut nama Allah SWT adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Keduanya bagai dua sisi mata uang. Orang yang membaca saja tanpa ingat kepada Allah SWT seringkali bersikap sombong karena ilmu yang diperolehnya. 

Demikian juga orang yang hanya mengedepankan keimanan tanpa dilandasi oleh pengetahuan yang cukup tentang ilmu agama acapkali mendatangkan kefanatikan membuta.

Membaca Alquran yang disertai dengan mengkaji kandungan isinya berarti telah mempelajari dasar dasar dari semua disiplin ilmu. Sebab seluruh cabang ilmu telah dibicarakan oleh Alquran secara global.

Selanjutnya, kajian Alquran dikombinasi dengan kajian Hadits Nabi SAW sebagai penjelas terhadap arti dan kandungan Alquran, ditambah dengan menelaah pendapat serta penelitian para ulama muslim terdahulu dari masa ke masa. Semua ini momentumnya ada pada bulan Ramadan.



Profil

Profil
M. Hasan Gaido, Ceo Gaido Group

Trending Topic

Translate